CAHAYA DI ATAS KEPALA

25 Agustus 2014

KAMPUS SAMUDRA ILMU HIKMAH

“Janganlah bersedih. Anak keempatmu yang baru lahir itu kelak akan menjadi ratu di kalangan para wanita. Ia akan menjadi pembimbing atas tujuh puluh ribu umatku.”

Rabi`ah Al-Adawiyah merupakan salah seorang tokoh sufi yang cukup tersohor dari Bashrah. Hampir bisa dipastikan, bahwa dia adalah satu-satunya wanita di tengah tokoh-tokoh sufi yang didominasi oleh kaum lelaki. Ia lahir dari keluarga miskin dan saleh. Bahkan, ketika Rabi’ah lahir, rumahnya dalam keadaan gelap gulita karena tak memiliki minyak untuk menyalakan lampu. Namun, setelah ia dewasa, justru ia menjadi pembawa cahaya untuk tujuh puluh ribu umat Islam.

Hal itu sesuai dengan pesan Rasulullah Saw. yang didengar oleh ayah Rabi`ah di dalam mimpinya. Tatkala Rabi`ah lahir, ibu Rabi`ah meminta suaminya agar meminta minyak kepada tetangga sebelah untuk menyalakan lampu. Ayah Rabi`ah pun pergi. Namun, setibanya ia di depan pintu rumah tetangganya, ia hanya meletakkan tangannya di daun pintu, tanpa mengetuknya. Kemudian ia kembali kepada istrinya dan mengatakan, bahwa tetangganya tak mendengar ketukannya sehingga mereka tak membukakan pintu untuknya.

Sepanjang malam itu, ayah Rabi`ah duduk bersimpuh dan berdzikir. Kemudian ia tertidur di dalam duduknya. Dalam tidurnya itu, ia melihat Rasulullah Saw. datang menghiburnya seraya berkata: “Janganlah bersedih. Anak keempatmu yang baru lahir itu kelak akan menjadi ratu di kalangan para wanita. Ia akan menjadi pembimbing atas tujuh puluh ribu umatku.”

Selanjutnya, Rasulullah Saw. memberikan sebuah perintah kepada ayah Rabi`ah. “Besok pagi, pergilah menemui Isa Al-Zadan, gubernur Bashrah. Tulislah kalimat ini di atas selembar kertas dan serahkan kepadanya. ‘Setiap malam engkau mengirimiku seratus shalawat dan pada malam jumat empat ratus shalawat. Malam jumat tadi, engkau telah melupakanku. Maka, untuk menebusnya, berikan empat ratus dinar yang engkau peroleh secara halal kepada lelaki ini” Demikian pesan Rasulullah Saw. di dalam mimpi ayah Rabi`ah.

Pada saat itu, ia pun terbangun dari tidurnya. Ia menangis haru dan menuliskan kalimat untuk gubernur Bashrah seperti yang telah diucapkan oleh Rasulullah Saw. di dalam mimpinya itu. Ketika pagi tiba, ia pun segera melaksanakan apa yang menjadi petunjuk Rasulullah Saw. di dalam mimpinya, yakni menyampaikan surat itu kepada gubernur melalui salah seorang pegawai gubernur.

Mendapat Kebebasan

Tatkala membaca pesan di dalam surat itu, sang gubernur tersentak. Ia berpandangan bahwa orang yang membawa pesan itu bukanlah orang sembarangan. Maka, Isa Al-Zadan langsung mendatangi ayah Rabi`ah dan menyerahkan uang sejumlah empat ratus dinar ditambah hadiah sebanyak dua ribu dinar sebagai tanda kesyukurannya.

Setelah Rabi`ah melewati masa kanak-kanaknya, kedua orangtuanya wafat. Rabi`ah berkeinginan untuk mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Namun, ia diperdaya oleh seseorang dan ia dijual sebagai budak dengan harga enam dirham. Selama menjadi budak, Rabi`ah selalu melewati hari-harinya dengan berpuasa di siang hari dan beribadah pada malam harinya.

Pada suatu malam, ketika Rabi`ah tengah bersujud di dalam shalatnya, sang majikan yang pada saat itu kebetulan tengah terbangun dan melihat Rabi`ah dari jendela kamarnya, merasa terkejut. Sebab, apa yang dilihatnya saat itu benar-benar di luar jangkauan akal manusia. Ia melihat, di atas kepala Rabi`ah terdapat cahaya misterius yang menerangi di sekitar ruangan tempat Rabi`ah berada.

Bersamaan dengan itu, sang majikan mendengar Rabi`ah bergumam dalam doanya: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, bahwa hatiku selalu ingin menjalankan setiap perintah-Mu. Sinar mataku ini selalu ikhlas menerima setiap keputusan-Mu atas diriku. Jika aku bisa, aku tak akan menyisakan waktuku barang sekejap pun selain untuk mengabdi kepada-Mu. Akan tetapi, Engkau telah meletakkan diriku berada dalam kekuasaan seorang makhluk-Mu.”

Menyaksikan kejadian itu, sepanjang malam majikannya tak bisa tidur. Ia menyadari betul, bahwa budaknya itu bukanlah manusia sembarangan. Keesokan harinya, ia memanggil Rabi`ah dan memberikan kebebasannya. Hidup memang tak bisa diketahui alurnya.

Sebagaimana Rabi`ah. Ia lahir dalam kemiskinan, besar dalam dunia perbudakan dan kemudian memperoleh kecemerlangan dalam hidupnya. Bahkan, setelah ia tiada sekali pun, namanya tetap selalu menjadi spirit bagi orang-orang yang berusaha mencari kehidupan yang sejati.

Oleh karena itu, kita tak perlu berpikir tentang bagaimana hidup kita pada waktu berikutnya. Sebab, alur kehidupan seseorang di muka bumi ini multak menjadi ketetapan Allah yang serba gaib bagi makhluk-Nya. Namun, yang paling penting untuk kita renungkan adalah, untuk siapa kita abdikan kehidupan kita di muka bumi ini? Apakah untuk Allah atau selain-Nya? Wallahu alam bi al-shawab.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

BELAJAR JUJUR

25 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmah

Dek, ibu tidak mengajarkan kita untuk mencuri, kita boleh susah tapi tidak boleh mencuri, kembalikan dek dan segeralah minta maaf.”

“Kalau adik dimarah-marahin terus dipukul sama orang- orang bagaimana?” tanyanya memelas.

“Nggak dik, kita sudah jujur nggak mungkin dipukul.”

“Tapi adik takutkata sang adik.

“Ya udah kakak temanin, tapi adik harus ikut,” sang adik pun mengangguk.

Mereka berdua berlari mengejar seorang kakek tua yang sedang menggandeng cucunya. Si adik bahkan tertatih-tatih sampai kehilangan sendal jepit terbarunya. Lari sang kakak begitu cepat mengejar sang kakek yang dompetnya diambil oleh adik.

Kakek tua itu memanggil angkot dan sang kakak pun teriak sekuat tenaga, “Kakek… tunggu… ini dompetnya.”

“Wah… maling tuh, kejar-kejar,” teriak seorang pedagang. Mendengar teriakan itu, para pejalan kaki spontan mengejar. Sang kakak yang melihat adik jauh tertinggal, kembali menghampiri adiknya dan menggendongnya.

Gang Kancil ini memang terkenal dengan copet dan jambret, warga resah dan sangat berhati-hati, bahkan ada gosip yang mengatakan para pengemis sudah dikelola oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab. Wajar jika kedua kakak beradik ini dikejar oleh warga yang sangat membenci tindakan yang telah menjadi aib di gang ini.

Tangan mereka satu per satu hampir meraih si adik, hingga akhirnya kakek tua itu menoleh ke arah mereka.

“Kakek tolong kami, ini dompet kami, tolong,” pinta si kakak mengiba.

Kakek tua itu pun menggendong si adik, spontan warga yang mengejar kaget. Dan salah satunya berteriak, “Pak… itu yang ngambil dompet bapak.”

“Bagaimana mereka mengambil dompet, kalau mereka itu teman cucu saya, iya kan sayang,” jawab kakek tua itu tenang dan si cucu pun mengangguk mengikuti kalimat si kakek.

“Eyalah… ya udah deh, kita kira maling, maaf tadi saya teriak. Ayoo bubar… bubar,” teriak pedagang kaki lima tersebut.

Kakek tua itu pun meletakkan sang adik, dia menatap kedua anak tersebut dengan wajah heran, tampak setengah marah. Melihat wajah si kakek, sang kakak pun berbicara.

“Maafkan kami ya kakek, adik saya tidak tahu apa- apa. Dia ngambil dompet kakek dan sekarang kami mengembalikannya, kami tidak sempat mengambilnya, kakek periksa aja.”

Si kakek pun tersenyum, sopir angkot yang sedari tadi parkir di tempat itu pun tersenyum.

“Di mana rumahmu nak…? Ini kakek punya uang, ambil aja,” jawab sang kakek.

“Jangan kakek, kami sudah salah, kami belajar untuk jujur, nggak apa-apa, nggak dikasih nggak apa-apa.”

“Tapi kalian kan pastinya belum makan,” kata sang kakek (bijak).

Mereka berdua menunduk, tiba-tiba si adik nyeletuk, “Kak lapar…” rengekan si adik.

“Ssst… jangan berisik,” kata sang kakak mengingatkan.

“Sudahlah, kali ini kakek yang meminta, kebetulan cucu kakek belum makan, kalian mau ikut sama kakek, kan?” Si adik pun menarik baju kakaknya dan memegang tangan kakek tua tersebut, dan mereka pun menaiki angkot menuju rumah makan terdekat di daerah pasar tersebut. *hh*

Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISTANA YANG CACAT

25 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmah

Di sebuah kerajaan sedang dilaksanakan pembangunan istana yang sangat megah dan indah. Tak hanya megah di luar, seluruh perabotan dalam istana juga me­mancarkan kecantikan dan kemewahan yang luar biasa. Sang raja sangat bangga dengan istananya.

Begitu istana dinyatakan selesai, sang raja meresmikan bangunan indah itu dengan menggelar berbagai acara kebesaran. Tak ketinggalan pula ia mengundang semua rakyatnya, mulai dari para petinggi kerajaan seperti para menteri dan pegawai istana hingga orang orang bawahan seperti pekerja biasa, fakir miskin, dan sebagainya.

Mereka kemudian dijamu dengan bera­neka macam makanan dan minuman, yang bukan main enak dan nikmat rasanya. Untuk memastikan keistimewaan istana itu, raja telah menempatkan beberapa penjaga di setiap pintu istana yang sangat indah itu untuk bertanya kepada setiap undangan yang masuk tentang keindahan istana tersebut. Apakah di sana terdapat cacat atau keku­rangan meskipun yang paling kecil sekalipun?

Beribu-ribu undangan mengunjungi istana itu. Dan setiap kali mereka ditanya tentang istana itu, jawabannya semua sama, yaitu istana yang paling hebat, indah, megah, kukuh dan sama sekali tidak terdapat cacat walaupun yang terkecil sekalipun.

Beberapa saat kemudian, datanglah serombongan orang tua yang bajunya penuh dengan tambalan memasuki istana itu. Para penjaga menjamu mereka dengan sempurna dan tidak lupa bertanya kepada mereka ten­tang pendapatnya mengenai istana tersebut.

Salah satu dari mereka berkata, “Terda­pat dua cacat besar pada istana indah ini.”

“Apa kata Anda? Ada dua cacat pada istana ini?” tanya penjaga istana dengan nada tidak percaya.

“Benar terdapat cacat di dalamnya,” jawab orang itu kembali.

Penjaga istana lalu menahan sebagian orang tua tersebut dan membawanya meng­hadap sang raja, seraya berkata kepadanya, “Wahai paduka raja, hamba telah bertanya kepada ribuan orang akan kehebatan, keme­gahan, dan keindahan istana paduka. Semua orang mengatakan istana ini indah, megah, kukuh bangunannya dan sempurna dan tak ada satu cacat pun padanya, meskipun yang terkecil. Bahkan mereka memuji-mujinya setinggi langit’ Tetapi tatkala hamba ber­tanya pada rombongan orang-orang tua ini justru mereka mengatakan ada dua cacat besar pada istana ini.”

Raja pun mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian bertanya, “Wahai bapak- bapak sekalian! Saya tak rela dengan dua cacat sekecil apa pun pada istana saya ini. Tetapi bapak-bapak telah menyebutkan dua cacat besar pada istana ini. Nah, sebutkan dua cacat itu!”

Seseorang dari orang tua itu menjawab, “Bukankah istana indah ini suatu saat nanti akan rusak?”

“Ya, benar katamu!” jawab Raja.

“Itulah cacatnya yang pertama”.

“Lalu apa cacat yang kedua?” tanya Raja.

“Pemiliknya akan meninggal dunia! Itulah cacatnya yang kedua,” jawab orang tua yang lain.

Raja tercengang mendengar jawaban itu, dan mengakui akan kebenaran kata-kata orang-orang tua itu. Dia termenung sejenak, kemudian berkata kepada mereka, “Benar dan sungguh benar perkataan bapak-bapak. Namun, adakah sesuatu atau istana yang tak akan rusak selama-lamanya, dan pemiliknya tak akan mati?”

Orang-orang tua itu hampir serentak tersenyum dan tertawa. Seolah-olah mereka sudah menunggu pertanyaan itu dari sang Raja, dan mereka pun sudah mempunyai jawabannya.

“Ada, wahai paduka Raja, ada,” jawab mereka serentak.

“Di manakah dia?”

“Di Surga! Surga dan segala kenikma­tannya tidak akan rusak untuk selama- lamanya, dan pemiliknya tidak akan mati!” jawab mereka. Raja pun mengangguk-ang- gukkan kepalanya.

“Alangkah bahagianya seandainya paduka dapat memperolehnya, sebab jalan untuk memperolehnya, bagi paduka sangat­lah terbuka luas dan tidak sukar,” tambah orang tua itu.

“Coba terangkan, bagaimana cara mem­perolehnya?” tanya Raja.

“Mudah saja paduka! Paduka akan mem­perolehnya dengan beriman kepada Allah Swt. dengan menjalani semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Sebaliknya, jika paduka tidak mengerjakan semua itu, maka paduka akan menghadapi kecelakaan dan siksaan yang sangat pedih, yaitu api neraka dan akan kekal di sana, sakitnya tidak dapat di bayangkan,” jelas mereka sekalian.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan turuti segala nasihat bapak-bapak dan akan aku tinggalkan agama yang selama ini aku pegang. Aku akan beriman kepada Allah Swt., dan akan aku tinggalkan kursi kerajaan ini untuk bertaubat kepada-Nya,” balas Raja.

Raja itu benar-benar melaksanakan segala apa yang diucapkannya Akhimya, jadilah ia sebagai hamba Allah yang saleh, taat hingga akhir hayatnya, berkat ajakan hamba yang saleh.***

Disadur dari buku Mutiara-mutiara Hati, Penulis Hadi S. Khuly, Penerbit Gava Media

NABI SULAIMAN AS DAN SEEKOR IKAN

24 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmah

Pada suatu ketika, Nabi Sulaiman menyampaikan sebuah munajat kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagai Nabi yang telah diberi keleluasaan untuk menguasai bangsa jin, hewan dan angin, serta dianugerahi harta kekayaan yang berlimpah, telah membuat Nabi Sulaiman merasa bahwa ia sanggup memberi makanan kepada setiap makhluk yang menjadi penduduk di kerajaannya. Oleh karena itu, ia bermunajat kepada Allah agar diberi izin untuk memberi makan pada setiap makhluk yang ada di kerajaannya selama satu tahun penuh.

Allah Taala kemudian menjawab munajat Nabi Sulaiman tersebut dengan berfirman: “Engkau sekali-kali tak akan dapat melakukan haJ itu.” Akan tetapi Nabi Sulaiman tetap bersikeras. Ia memohon kepada Allah agar diberi izin untuk membagikan makanan kepada seluruh makhluk hanya dalam tempo sehari saja. Maka Allah mengizinkan kepada Nabi Sulaiman melakukan hal itu untuk membuktikan kekuasaan-Nya.

Nabi Sulaiman segera melaksanakan hajatnya itu. Ia memerintahkan kepada anak buahnya agar membuat hidangan makanan yang jumlahnya memenuhi sebuah lapangan yang sangat besar. Saking besarnya lapangan itu, sampai-sampai dituturkan dalam riwayat tersebut, bahwa panjang hidangan makanan itu mencapai perjalanan satu bulan. Demikian pula halnya dengan jumlah ukuran lebarnya.

Setelah mempersiapkan hidangan yang sangat banyak itu, Nabi Sulaiman memerintahkan kepada semua makhluk untuk mengelilingi hidangan itu, agar tidak menjadi rusak. Usai Nabi Sulaiman menyiapkan segala sesuatunya, Allah berfirman kepadanya: “Makhluk manakah yang akan engkau suruh mulai menyantap makanan itu terlebih dahulu?”

Nabi Sulaiman menjawab: “Aku mohon agar Engkau menghadapkan penduduk darat dan sekaligus penduduk laut agar menyantap hidangan ini terlebih dahulu.” Namun Allah tak segera menuruti apa yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman tersebut. Allah hanya mendatangkan seekor ikan yang besar saja dari sekian banyak ikan yang hidup di laut.

Ikan besar itu pun diletakkan Allah di hadapan hidangan yang telah disajikan oleh Nabi Sulaiman. Selanjutnya, ikan itu mengangkat kepalanya dan berbicara kepada Nabi Sulaiman.

“Hai Sulaiman, sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku berada di tanganmu hari ini,” ujar ikan itu.

“Ambillah makanan itu hingga engkau merasa kenyang,” kata Nabi Sulaiman. Ikan itu pun segera melahap hidangan yang telah disiapkan oleh Nabi Sulaiman. Hanya dalam hitungan detik, seluruh hidangan itu habis dilahap oleh sang ikan. Setelah hidangan habis, ikan itu berkata:

“Hai Sulaiman, sesungguhnya aku belum merasa kenyang, meski telah menyantap seluruh hidangan yang engkau sajikan.”

Melihat kejadian itu, Nabi Sulaiman menjadi tersadar, bahwa sesungguhnya hanya Allah sajalah yang dapat memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya hingga mereka merasa kenyang. Sedangkan Nabi Sulaiman yang sudah menyiapkan makanan begitu banyak dan dengan susah payah, pada akhirnya toh tak dapat membuat satu ekor ikan pun merasakan kenyang.

Apalagi jika ia menyuguhkan makanan kepada seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Tentunya, ia pun akan merasa sangat lelah dan tak mampu. Bahkan, untuk makanan seekor ikan saja, sang ikan tetap belum merasa kenyang dalam satu kali makan.

Apalagi jika ia harus menyiapkan makanan untuk satu hari bagi ikan itu dan seluruh makhluk yang ada di bumi. Maka, sudah barang tentu, tak ada daya dan kekuatan pada seorang makhluk pun untuk dapat memberi rezeki kepada makhluk lainnya. Hanya Allah Zat Yang Maha Memberi rezeki sajalah yang mampu melakukannya dengan sangat sempurna.

Nabi Sulaiman pun akhirnya jatuh tersungkur dan bersujud di hadapan Allah. Ia menyadari betul di mana letak kelemahan- nya sebagai makhluk, yang notabene tak akan dapat melakukan sesuatu pun kecuali atas kehendak dan rahmat Allah. Dalam sujudnya itu, Nabi Sulaiman berkata: “Mahasuci Allah, Zat yang telah menanggung rezeki bagi seluruh makhluk yang diberi rezeki, tanpa Dia merasakannya sama sekali.”

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

ILMU MELAMAR PEKERJAAN

21 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmah

Fungsi:

Agar diterima dalam melamar pekerjaan

Caranya:

1. Sholat hajat 2 rekaat jam 12 malam selama 7 malam berturut-turut.

2. Setelah sholat fardhu dan sholat hajat kirim fatehah pada orang yang berwenang memutuskan pekerjaan.

3. Setelah sholat hajat baca surat ALAM NASROH 41x lalu surat lamaran ditiup 3x.

Lalu baca doa ini:

ALLOHUMMA YAKTAFI MIN KHOLQIHI YA AHADU YA MAL LA AKHIRO LAHU IN QOTA’AR ROJAA-U ILLA MINKA WAKHOBATIL AMALU ILLA FIIKA WANG SADDATIT THURRUQU ILLA ILAIKA YA GHIYAA TSAL MUSTAGHISIINA.

 

 

by, Ki Tapak Nur Sejagat

DOSEN ILMU KHODAM DAN BENDA BERTUAH

SHOLAWAT FATHIMAH

19 Agustus 2014

KAMPUS SAMUDRA ILMU HIKMAH

Shollallaahu ‘alaa thoohaa khoyril kholqi wa’laahaa wal karoomi abil kurmaa’i wazzahro’i wabnayhaa.shollallaahu robbunaa ‘alaa nuuril mubiin ahmadal mushthofaa sayyidil mursaliin wa ‘alaa aalihii wa shohbihii ajma’iin.

”Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Thoha (Nabi Muhammad saw), makhluk yang terbaik, tertinggi derajatnya, seorang hamba mulia, bapak kemuliaan. Semoga rahmat dilimpahkan juga kepada Fathimah azzahro dan kepada kedua anaknya (Hasan dan Husain). Semoga Allah, Tuhan kita, melimpahkan rahmat kepada cahaya yang jelas, yakni Ahmad yang terpilih, pemimpin para rasul, dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya semua.

Dibaca rutin 3x setiap selesai sholat fardhu, khasiatnya mahabbah wal haibah, dan menjadikan darah harum semerbak mewangi, lebih terlihat kelak ketika mati sudah jadi mayat, baik ketika mayat di semayamkan dirumah maupun pas dikubur, orang banyak akan mencium bau wanginya, dan bisa juga di uji coba selagi masih hidup dan yakin wirid sholawat fathimah ini telah bersenyawa pada dirinya, maka silahkan dikeluarkan darah dangsanak bisa pakai suntikan untuk di cium aroma wanginya. Adapun wanginya seperti wanginya selendang siti fathimah.

SALAM PANJENENGAN MONGGO

 

by, Rezky Cinta KSIH

DOSEN ILMU HIKMAH & ILMU LELUHUR KALIMANTAN

 

TETANGGA DI SYURGA

18 Agustus 2014

KAMPUS SAMUDRA ILMU HIKMAH

Abu Yazid Al-Busthami adalah salah seorang tokoh sufi dari Bustam, Iran. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin ‘Isa bin Adam bin ‘Isa bin Ali bin Surusyan AI-Bustami. Ia dikenal sebagai seorang sufi yang kerap kali mengalami ekstase spiritual hingga mencapai tingkat wahdah al-wujud atau menjadi satu dengan Tuhan. Hal inilah yang kemudian membuat sebagian ulama menuding Abu Yazid sebagai seorang penebar bid’ah. Namun, di kalangan kaum sufi, ekstase spiritual yang demikian itu sudah merupakan hal yang lazim dialami oleh mereka yang menjalani kehidupan sebagai seorang sufi dan zahid.

Dikisahkan, pada suatu hari, Abu Yazid pergi berziarah ke makam Rasulullah Saw. Di makam Nabi yang mulia itu, Abu Yazid bermunajat kepada Allah agar dapat dijadikan sebagai tetangga Rasulullah Saw. di akhirat kelak. Tak lama kemudian, di antara setengah sadar, Abu Yazid seperti mendengar ada suara yang memanggilnya seraya berkata: “Sesungguhnya engkau kelak di surga akan bertetangga dengan budak dari salah seorang imam yang tinggal di sebuah kota .”

Setelah mendengar suara itu, Abu Yazid tersadar dan berpikir sejenak. Apakah mimpinya itu benar-benar merupakan petunjuk dari Allah Swt. ataukah dari setan? Untuk memastikan jawaban tersebut, ia kemudian memutuskan mencari budak yang dimaksudkan di dalam mimpinya itu. Ia berjalan menyusuri negeri Iran bagian timur, seraya bertanya pada setiap orang yang dia temui kalau-kalau ada yang mengenal budak dari imam yang dimaksudkan dalam mimpinya itu.

Setelah berjalan kira-kira sejauh delapan ratus kilometer, Abu Yazid akhirnya bertemu dengan orang yang mengenal tentang budak yang dicarinya itu. Akan tetapi, betapa kagetnya Abu Yazid ketika mendengar penuturan dari orang-orang mengenai budak tersebut.

“Dia adalah seorang budak dan suka berbuat fasik. Kerjanya mabuk-mabukan. Mengapa Anda mencarinya?” tanya orang-orang yang mengenal budak tersebut. Abu Yazid tercenung. Ia tak menyangka akan memperoleh kabar seperti itu tentang lelaki yang dicarinya dan merupakan tetangganya di surga kelak.

“Tidak mungkin. Pastilah seruan yang kudengar itu berasal dari setan,” bisik Abu Yazid di dalam hati. Abu Yazid kemudian bermaksud untuk kembali pulang ke kampungnya karena menganggap bahwa dirinya telah ‘dipermainkan’ oleh setan.

Namun, tebersit di hatinya suatu keinginan untuk sekadar melihat orang yang dimaksudkan. Ia ingin mengetahui seperti apakah budak – yang di dalam mimpinya disebutkan sebagai tetangganya di surga itu – tapi oleh masyarakat sekitarnya dikenal sebagai orang yang suka berbuat fasik.

Ternyata, tak sulit untuk mencari tahu di mana keberadaan budak tersebut. Sebab, orang-orang telah paham betul bagaimana kelakuannya yang suka berkumpul dengan para pemabuk. Setelah Abu Yazid tiba di tempat tersebut, ia menyaksikan ada banyak orang yang sedang berkumpul dan menenggak minuman keras. Sementara budak yang dicarinya tengah duduk di antara mereka yang sedang mabuk itu.

Melihat pemandangan itu, Abu Yazid merasa yakin bahwa suara yang didengarnya di makam Rasulullah Saw. itu adalah gangguan dari setan. Ia melangkah pergi dan bermaksud pulang. Namun, baru beberapa langkah ia beranjak dari tempatnya, tiba-tiba budak itu memanggilnya dengan suara yang jelas. Tak terlihat sama sekali bahwa ia berbicara sebagai orang yang sedang mabuk.

“Hai Abu Yazid, syekhnya kaum muslim,” panggil budak itu. “Mengapa engkau tidak mendekat kemari? Bukankah engkau telah menempuh perjalanan jauh untuk mencari tetanggamu di surga kelak? Ketika engkau sudah melihatnya, mengapa engkau justru hendak pulang, tanpa memberi salam atau sekadar menyapa dan mengucapkan salam perpisahan?” kata budak itu kepada Abu Yazid.

Mendengar perkataan budak itu, Abu Yazid pun merasa heran. Ia jadi tersadar, bahwa budak itu bukanlah orang yang biasa. Buktinya, ia mengetahui suatu rahasia yang hanya diketahui oleh Abu Yazid sendiri. Belum sempat Abu Yazid berkata sepatah kata pun, budak itu sudah langsung menyahut: “Engkau tak perlu merasa heran dengan apa yang aku katakan. Sebab, Allah telah memberitahukan kepadaku tentang kedatanganmu. Oleh karena itu, mendekatlah kemari wahai syekh dan duduklah bersama kami di sini.”

Abu Yazid mendekati budak itu dan bertanya kepadanya: “Apakah artinya semua ini?” Abu Yazid merasa aneh dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin orang yang selalu berada di antara para pemabuk bisa menjadi tetangganya di surga? Demikianlah kira-kira pertanyaan yang bergelayutan di benak Abu Yazid. Budak itu dapat memaklumi rasa heran yang menyelubungi hati Abu Yazid. Maka, ia pun mengungkapkan kepada Abu Yazid tentang rahasia yang ada di balik semua itu.

“Hai Abu Yazid, kelak kita di akhirat itu tidak masuk ke dalam surga secara sendiri-sendiri sekehendak hati kita. Tetapi, semuanya ada berjumlah delapan puluh orang. Awalnya, mereka hidup di dunia ini sebagai orang fasik. Kemudian, aku berjuang menolong mereka agar kembali ke jalan Allah. Maka empat puluh orang dari mereka menjadi sadar dan bertobat. Kini tinggal empat puluh orang lagi yang tersisa. Mereka menjadi tanggung jawabmu untuk menyadarkan dan mengembalikan mereka kepada jalan Allah,” ujar budak itu.

Abu Yazid pun akhirnya menjadi paham. Bahwa budak itu berada di tengah orang yang meminum minuman keras bukanlah sebagai seorang peminum yang memperturutkan hawa nafsunya. Namun, ia berada di situ untuk sebuah misi. Yakni, mengajak orang-orang yang mabuk itu untuk kembali kepada Allah. Dan hal itu ia lakukan juga semata-mata karena mengharapkan rahmat dan pertolongan Allah.

Sementara itu, para pemabuk yang mendengar budak itu menyebut-nyebut nama Abu Yazid menjadi tersadar dari perbuatan mereka. Nama Abu Yazid yang terkenal sebagai seorang syekh, membuat mereka serentak menyalami Abu Yazid. Pada saat itulah, Allah membuka pintu rahmat-Nya kepada mereka dan membuat mereka menyesali perbuatan fasik mereka dan bertobat kepada-Nya. Maka selesailah tugas Abu Yazid dalam menyadarkan keempat puluh pemabuk yang tersisa dengan sebab rahmat Allah.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

DIRGAHAYU HUT RI 69

16 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmahAssalmaualaikum. Wr. Wb. Namaste. Rahayu.

Pada momentum hari kemerdekaan HUT proklamasi yang ke-69 ini, marilah kita semua bersyukur dan memanjatkan doa kehadirat Allah swt agar arwah para pahlawan bangsa dilimpahkan kasih sayang dan ditempatkan ditempat yang baik. Dan untuk kita semua semoga kita selalu dilimpahkan rahmat, taufiq, hidayah, serta kekuatan untuk mengisi hari kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan positif dalam rangka menuju warga negara yang baik. Semoga apa yang kita lakukan dicatat sebagai amal baik dan diganjar pahala. Aamiin.

17 Agustus 1945
Sejarah kebebasan Indonesia
Hari bersatunya pemuda pemudi bangsa
Hari dimana tanah air kita merdeka

Ayo bangkitkan persatuan Indonesia
Bangkitkan kemajuan dan kreativitas bangsa
Dan jadikan Indonesia bangga
Indonesia Merdeka!

Selamat Ulang Tahun Indonesia! Merdeka!!

KETETAPAN REZKEKI UNTUK SEMUA MAKHLUK

15 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmah

Orang-orang yang menjalani kehidupan sebagai sufi hampir tak mau memikirkan kesenangan duniawi sedikit pun, kecuali hanya kebutuhan untuk makan dan minum, sekadar untuk menegakkan tulang punggung saja.
Sebab, bagi mereka, tak ada dua kehidupan yang harus ditempuh secara bersamaan. Melainkan harus dipilih salah satunya saja, dan menjalaninya secara kaffah.

Iman Al-Zahidy atau yang dikenal dengan nama Al-Muthariz Al-Bawardy, adalah seorang tokoh sufi yang terkenal pada zamannya lantaran kezuhudannya. Oleh sebab itulah, ia disebut sebagai Imam Al-Zahidy. Nama lengkapnya adalah, Abu Umar Muhammad bin Abd Al-Wahid bin Abi Hasyim. Ia berasal dari daerah Baward, Khurasan.

Semasa mudanya, Imam Al-Zahidy selalu menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu agama. Salah seorang gurunya yang sangat ia kagumi adalah Abu Al-Abbas Tsalab. Kenikmatan Imam Al-Zahidy di dalam menuntut ilmu, membuatnya tak memikirkan kepentingan duniawi. Kezahidannya membuat kemiskinan sangat lekat dengan dirinya.

Menurut Imam Al-Zahidy, setiap makhluk telah diberikan jatah rezeki oleh Allah. Tak seorang pun yang akan diabaikan atau ditinggalkan oleh Allah sehingga tak diberi rezeki. Sebab, Allah adalah Zat Yang Maha Memberi Rezeki (Al-Razzaq).

Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu ketika Imam Al- Zahidy ingin membuktikan kalau Allah benar-benar menyantuni tiap hamba-Nya dengan ukuran rezeki mereka masing-masing. Ia keluar dari rumahnya dan berjalan menuju ke sebuah gunung. Setibanya di gunung tersebut, ia mencari salah satu gua yang asing atau tak pernah dikunjungi oleh siapa pun. Di gua itu juga tak terdapat air atau makanan apa pun. Sedangkan Imam Al-Zahidy sendiri datang ke gua tersebut juga tanpa membawa bekal sama sekali.

Kedatangannya ke gua itu tiada lain kecuali hanya untuk satu hajat. Yakni ingin membuktikan bahwa Allah tidak bakalan melalaikan hamba-Nya dalam soal rezeki. Bertapalah Imam Al- Zahidy di gua tersebut. Tanpa makan dan minum, kecuali hanya berdzikir dan shalat. Ia bersuci dengan menggunakan tayamum karena tak ada air di dalam gua tersebut.

Hingga beberapa hari Imam Al-Zahidy tinggal di gua tersebut. Tubuhnya sudah mulai lemah. Akan tetapi, ia ingin agar Allah membuktikan bahwa Dia tak akan melalaikan hamba-Nya dalam memberi rezeki, meski hamba itu tidak melakukan upaya apa pun. Memang, menurut sebagian kaum sufi, menjalankan kehidupan sebagai seorang sufi itu, kerap mengabaikan yang namanya ikhtiar. Hal itu didasarkan pada keyakinan yang sangat kuat, bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-Nya dalam soal rezeki.

Di samping itu, orang-orang yang menjalani kehidupan sebagai sufi hampir tak mau memikirkan kesenangan duniawi barang sedikit pun, kecuali hanya kebutuhan untuk makan dan minum, sekadar untuk menegakkan tulang punggung saja. Sebab, bagi mereka, tak ada dua kehidupan yang harus ditempuh secara bersamaan. Melainkan harus dipilih salah satunya saja, dan menjalaninya secara kaffah. Apakah memilih kehidupan dunia ataukah memilih keutamaan kehidupan akhirat. Biasanya, pilihan mereka jatuh pada alternatif yang kedua, yakni mengutamakan kehidupan akhirat.

Demikianlah yang dilakukan oleh Imam Al-Zahidy. Setelah ia beberapa hari tidak makan dan minum di dalam gua itu, tiba-tiba masuklah sekelompok kafilah ke dalam gua tersebut. Rupanya, mereka adalah rombongan kafilah yang tersesat jalan. Karena hari sudah sore, mereka tidak melanjutkan perjalanan. Maka, mereka memilih untuk mencari gua sebagai tempat menginap terlebih dahulu.

Alhasil, mereka menemukan gua di mana Imam Al-Zahidy berada di dalamnya. Ketika mereka melihat ada orang yang duduk di dalam gua itu, mereka mencoba menegurnya. Akan tetapi, Imam Al-Zahidy pura-pura tak mendengarnya. Ia ingin melihat bagaimana skenario yang dibuat Allah dalam memberi rezeki kepada dirinya. Karena tak ada sahutan dari Imam Al-Zahidy, orang-orang itu duduk mengitarinya dan memerhatikan dirinya. Mereka sibuk ingin memberikan pertolongan kepada Imam Al- Zahidy.

“Mungkin ia sangat kedinginan sehingga tidak bisa berbicara,” ujar salah satu dari mereka. Maka mereka pun mencoba membuat tungku api di dekat Imam Al-Zahidy. Menurut mereka, mungkin dengan membuat tungku api itu bisa membuat badan Imam Al-Zahidy menjadi hangat dan ia terbebas dari hawa dingin yang telah menyelimuti tubuhnya.

Kendati demikian, Imam Al-Zahidy tetap bergeming. Bahkan, saat ia diajak berbicara, ia sama sekali tak menyahut ataupun menunjukkan reaksi apa pun. Mereka mulai menduga- duga lagi.

’’Mungkin ia sangat lapar,” kata salah seorang di antara rombongan kafilah itu. Kemudian mereka membawa bekal mereka ke dekat Imam Al-Zahidy. Tak lupa pula mereka menghangatkan susu untuk disuguhkan kepada Imam Al-Zahidy.

Akan tetapi, Imam Al-Zahidy sama sekali tak menyentuh makanan dan minuman yang mereka sajikan di hadapannya. Mereka menjadi bingung dengan ulah yang dilakukan oleh Imam Al-Zahidy. Mereka mengira bahwa mungkin tubuh Imam Al-Zahidy sudah membeku karena lama berdiam di gua itu. Akhirnya, mereka membuka mulut Imam Al-Zahidy secara paksa dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Seketika itu juga, Imam Al-Zahidy tertawa geli karena menyaksikan ulah orang-orang yang ingin menolongnya itu dan gembira karena telah berhasil membuktikan bahwa Dia tak mengabaikan makhluk-Nya dalam persoalan rezeki. Imam Al- Zahidy kemudian menjelaskan kepada para rombongan kafilah yang bingung melihat tingkahnya itu. Ia mengatakan, sesungguh­nya dirinya hanya sedang membuktikan bahwa Allah tidak akan meninggalkan satu makhluk pun dalam persoalan rezeki mereka.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

DAHSYATNYA SEDEKAH

15 Agustus 2014

kampus samudra ilmu hikmah

Kisah ini saya kutip dari tausyiah yang pernah saya simak bertema sedekah. Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut: Tatkala Allah Swt., menciptakan bumi, maka bumi pun ber¬getar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung terse¬but. Kemudian mereka bertanya?

“Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?”

Allah menjawab, “Ada, yaitu besi.”

Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi.

Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?”

Allah yang Maha Suci menjawab, “Ada, yaitu api.”

Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api.

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?”

Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air”

Api membara sedahsyat apa pun, niscaya akan padam jika disiram oleh air.

“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat.

Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, I “Ada, yaitu angin.”

Air di samudra luas akan serta-merta terangkat, bergulung- gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat.

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang. *Berbagai sumber-jwb*

Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 747 pengikut lainnya.